Minggu, 30 Agustus 2009

Perantau Sukses asal Simalungun minta Membangun Simalungun ttp berpijak pada HABONARON DO BONA


Medan (SIB)
Sejumlah warga Simalungun yang merantau dan sukses di sejumlah kota utama di Indonesia dan luar negeri (LN), Kamis (27/8) berkumpul di Medan. Pertemuan yang digagas pribadi masing-masing atas dasar keinginan mempercepat peraihan kesejahteraan itu berharap pembangunan di tanah leluhur tetap berpijak pada falsafah Habonaron do Bona yang memositifkan bahwa setiap berpikir, melangkah dan berbuat tetap mengakar pada kebenaran sebagai asal mula dan akhir.
Wifajar Saragih, salah seorang penutur di pertemuan di Arya Duta Hotel Medan itu mengatakan, Simalungun adalah wilayah yang subur dengan heteregonitas etnik yang mampu mensejahterakan penduduknya. Tetapi, ujar pria yang memperistri Barbara Reni HD br Purba Sigumondrong itu, harapan kesejahteraan yang diinginkan, masih jauh. Diakui atau tidak, ujarnya, dalam proses membangun dan pembangunan ada yang kurang pada tempatnya hingga menimbulkan kebocoran namun kebocoran itu dapat ditekan bila falsafah Habonaron Do Bona tetap dipegang teguh. “Kepemimpinan (Bupati Zulkarnaen Damanik) sudah mengupayakannya tapi masih dapat dimaksimalkan lagi,” tandas pria Wifajar Saragih yang berorangtuakan (ayah A Saragih – (SGA Kotamadya Siantar dan ibu R Purba Sigumondrong – SMP HKBP Siantar).
Sebagaimana yang dituangkan di http://www.wifajarsaragih.com, sejumlah konsep membangun Simalungun berbasis kekuatan adat dan kemajemukan etnik mampu memberi nilai tambah pada Simalungun. Wifajar Saragih mengatakan, hasil pertanian Simalungun yang identik dengan teh terbaik di dunia dapat membuat perekonomian Simalungun menjadi daerah yang mandiri dan tangguh. Mencontohkan satu wilayah di India dengan penghasilan teh, mampu membuat wilayah dimaksud mandiri dari sisi ekonomi. Padahal, ujar Wifajar Saragih, teh yang dihasilkan masih kalah jauh kualitasnya dari teh Simalungun. “Permasalahannya, selama ini dan sampai kini, industri pertanian di Simalungun masih berformat kedaerahan atau tradisional. Teh dan hasil pertanian di Simalungun dapat dijadikan orientasi pasar dunia,” ujar yang sudah membangun sejumlah daerah di Indonesia seperti Pekanbaru, Palembang, Lampung, Banjarmasin, Balikpapan, NAD.
Pengalaman di LN, Wifajar Saragih yang menghabiskan pendidikan dasar dan menegah di Pematangsiantar, melanjut ke ITB, IPB dan UI sempat berkiprah di Los Angeles, Thailand, Malaysia, Hongkong, Singapore, Australia. “Mimpi saya atau kami-kami orang perantau ini, Simalungun dibangun mencapai zero corruption tahun 2015. Dan itu bisa dicapai bila Habonaron Do Bona dipegang teguh,” ujar Wifajar Saragih.
Di acara itu, selain para perantau asal Simalungun juga para alumni ketiga universitas terkemuka di Indonesia sebagai pembanding lapangan. (r10/i)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar