Selasa, 01 September 2009

Perantau Simalungun Minta pemerintah Pusat cepat bangun Infrastruktur Di Kab.Simalungun


Medan (SIB)
Usai berkunjung ke kampung halaman untuk mencari tahu persoalan pembangunan di Simalungun, sejumlah warga Simalungun yang merantau dan sukses di sejumlah kota utama di Indonesia dan di luar negeri (LN), membawa persoalan tersebut ke Provinsi Sumut dan ke pemerintah pusat. Pelaku ekonomi dimaksud mendesak pemerintah pusat menggelontorkan dana untuk membangun, utamanya infrastruktur dalam maksud mempercepat kesejahteraan rakyat.
“Kami sudah mendata, kemudian mentabulasi dan memilah skalanya. Yang paling utama adalah pembangunan infrastruktur yakni pembenahan jalan dan jalur penghubung hingga akses rakyat petani di Simalungun lebih maksimal, baik untuk mengangkut hasil pertanian maupun untuk sarana perekonomian lain,” ujar Wifajar Saragih di Jimbaran – Medan, Senin (31/8) di jeda jamuan pengusaha sukses asal Simalungun.
Sejak Kamis (27/8), sejumlah pengusaha sukses asal Simalungun berkumpul di Medan. Pertemuan yang digagas pribadi masing-masing atas dasar keinginan mempercepat peraihan kesejahteraan masyarakat dilanjutkan kunjungan ke Simalungun untuk melihat langsung denyut nadi kehidupan leluhur. Wilfajar Saragih yang menghabiskan pendidikan dasar dan menengah di Simalungun dan Pematangsiantar mengaku kemajuan sudah ada ketimbang masa kecil dan remajanya tapi masih dapat dimaksimalkan dengan loncatan-loncatan bila seluruh elemen masyarakat dilibatkan dan regulator menanganinya maksimal. “Orang Simalungun itu punya falsafah. Bila pembangunan dilakukan memegang teguh falsafah Habonaron Do Bona yang memositifkan bahwa setiap berpikir, melangkah dan berbuat tetap mengakar pada kebenaran sebagai asal mula dan akhir, saya optimis kemajuan Simalungun lebih maksimal,” tandasnya.
Wifajar Saragih menegaskan, rakyat Simalungun adalah masyarakat agraris pertanian hingga sektor tersebut harus diprioritaskan guna pemaksimalan daya saing. Katanya, hingga saat ini, hasil pertanian dari Simalungun masih berstatus daya saing regional. “Orientasinya harus dipercepat menjadi daya saing internasional karena beberapa bulan lagi perdagangan bebas ASEAN – China sudah diratifikasi. Bila hasil pertanian Simalungun masih seperti sekarang, akan tenggelamlah,” keluh Wifajar Saragih.
Pria yang memperistri Barbara Reni HD br Purba Sigumondrong itu mengatakan, pemerintah pusat dan Pemerintah Sumut diharap memberi perhatian lebih pada Simalungun karena daerah tersebut menjadi penyangga perekonomian provinsi. “Saya mencatat, infrastruktur amat minim di Simalungun yang kaya itu. Dampaknya, percepatan pergerakan ekonomi, terhambat,” tandas pria Wifajar Saragih yang berorangtuakan (ayah A Saragih – (SGA Kotamadya Siantar dan ibu R Purba Sigumondrong – SMP HKBP Siantar).
Selain mendesak pemerintah pusat dan berharap Pemerintah Sumut memberi perhatian, melalui website http://www.wifajarsaragih.com, Wifajar menuangkan sejumlah konsep membangun Simalungun berbasis kekuatan adat dan kemajemukan etnik mampu memberi nilai tambah pada Simalungun. Apa-apa yang ada di Simalungun dipromokan ke luar hingga pihak investor mengetahui kekayaan yang hendak digali. “Tetapi, harus ditegaskan, hendaknya kekhawatiran investor tentang high cost economi harus ditekan yakni memberangus biaya siluman dan kebocoran. Mimpi saya atau kami-kami orang perantau ini, Simalungun dibangun mencapai zero corruption tahun 2015. Dan itu bisa dicapai bila Habonaron Do Bona dipegang teguh,” ujar Wifajar Saragih yang bersama rekanannya datang ke Simalungun atas inisiatif berpegang pada hendak diberlakukannya ASEAN – China Free Trade pada 2010. (r10/f)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar